Minggu, 20 Februari 2011

Selalu Kabulkan Inginku

Tulisan sebelumnya yang berisi keluhanku, ternyata terbaca oleh abahku itu dengan hatinya. Tanpa membaca blogku saja dia sudah tahu pasti inginku. Dia selalu kabulkan inginku.

Abahku tahu aku ingin apa. Aku tak pernah bilang inginku dengan pasti. Dahulu dia harus terbiasa menebak semua inginku. Aku hanya cukup bilang beberapa clue. Anehnya, dia bisa membaca inginku.

Ingat dahulu ketika aku kecil. Orang lain inginkan jajan, aku inginkan sekolah. Hal yang tak wajar diinginkan oleh anak usia 3 tahun saat itu. Tak cukup uang receh untuk mengabulkannya. Tapi dia kabulkan inginku.

Dan kini, saat aku ingin menikah, demikian pula. Tak cukup uang jutaan untuk mewujudkannya. Aku bahkan perlu puluhan juta untuk mengabulkan inginku, namun dia mengabulkan inginku.

Hal yang pelik terjadi belakangan ini adalah menentukan tempat dia akan menyerahkanku pada seorang pria yang dia belum tahu apakah pria itu mampu mengabulkan semua inginku. Aku hanya seorang anak manja yang sebenarnya ingin semua dikabulkan.

Entah apa yang merubah pendirian beliau, tapi aku sangat merasakan efeknya. Aku bahagia! Inginku yang selalu dikabulkannya membuat aku berpikir ingin rasanya mengalah. Namun begitu keras egoku yang ingin mewujudkan inginku hingga akhirnya dia yang mengalah. Semua dia lakukan untukku, anak yang begitu mirip dengannya.

Maka semoga ALLAH membalasnya dengan memberikan semua inginnya. Aamiiin.

Minggu, 13 Februari 2011

Mencuci

Tak ada yang salah dengan pekerjaan seorang ibu rumah tangga atau pembantu rumah tangga. Salah satu pekerjaan rumah tangga yang sering saya lakukan adalah mencuci. Hobi yang entah dikarenakan adanya penciptaan alat yang membantu pekerjaan manusia, yakni mesin cuci. Awalnya aku sangat tak suka saat disuruh mencuci dulu. Namun setelah adanya kehadiran mesin itu, hati ini tergugah untuk sering mencuci. Bahkan jika dibandingkan dengan kebutuhan menyetrikanya, mencuci jauh lebih sering.

Tahukah kamu jika mencuci bukan hal yang mudah. Ada tips dan triknya dalam menjaga pakaian agar tetap enak dipakai. Tentu saja demi kepentingan saya juga sebagai pemakainya. Mana ada sih yang pede pakai baju luntur, atau baju belel yang jadi longgar atau bahkan menciut dari ukuran sebelum dicuci. Semua ini demi penampilanku, lebih lagi mana ada sih yang pede dengan pakaian bau dan kotor. Maka dari itu saya harus mencuci dengan tepat.

Memisahkan pakaian yang berwarna dengan yang tidak adalah merupakan suatu kewajiban sebelum memasukkannya ke dalam mesin cuci, kecuali kalau tahu dengan pasti bahwa pakaian tersebut tidak luntur. Tapi apa salahnya berjaga-jaga, mencegah warna pakaian menular ke pakaian yang tidak berwarna.

Sebaiknya tidak mencuci pakaian dalam dengan mesin cuci. Selain takut bakteri yang menempel di pakaian kotor lainnya menempel di pakaian dalam kita, terlebih lagi pakaian dalam itu rawan cepat rusak alias belel atau berubah bentuk (khususnya bra) jika dicuci dengan mesin cuci terutama yang menggunakan kekuatan tinggi dalam memutarnya. Padahal yang namanya pakaian dalam itu lumayan mahal harganya, hampir sama bahkan terkadang lebih mahal daripada baju yang saya beli. Harus diawet-awet, meskipun kewajiban untuk mengganti pakaian dalam yang lama dengan yang baru setelah 3 atau 4 bulan.

Jangan pernah mencuci kebaya dengan mesin cuci. Hal ini pernah saya lakukan, dan tak mau lagi. Tahu kan akibatnya jika mencuci kebaya berpayet dengan mesin cuci? mulai dari payetnya yang copot hingga kancingnya yang akhirnya lepas dari batok kancingnya. Pokoknya akan menyesal kemudian karena akan menimbulkan biaya tambahan untuk memperbaikinya, atau bahkan keharusan membeli atau menjahit kebaya baru. Mana yang namanya kebaya itu tak cukup uang seratus ribu saja. Kebaya kesayangan yang penuh payet tidak disarankan mencuci dengan mesin cuci, bahkan dengan tangan pun harus sangat hati-hati. Kalau tidak mau ribet, kirimkan saja ke jasa laundry.

Pilihlah sabun deterjen yang tepat. Keluhan akan tangan kasar setelah mencuci sebenarnya dengan mencuci dengan mesin cuci mampu menguranginya. Apalagi saya terbiasa menggunakan sarung tangan untuk mencuci. Tapi pastikan sabun juga tepat mengangkat kotoran yang melekat pada baju kita. Jika sabun kita itu keras, maka jangan lupa untuk menambahkan pelembut pakaian pada bilasan terakhir dalam mesin cuci.

Jangan meremehkan pekerjaan mudah ini, karena walau bagaimanapun kondisi psikologis kita yang malas mengerjakan pekerjaan rumah sangat mempengaruhi kebiasaan dalam mencuci. Tidak aneh jika pembantu rumah tangga dibayar mahal untuk memperhatikan detail pekerjaannya. Oleh karena itu, bisa muncul karena terbiasa. Mari membiasakan mencuci dengan benar.

andai yang tak bisa lagi

Jika, apabila, bila, andai, merupakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bahasa Indonesia sebagai awal perumpamaan dari angan-angan di masa depan. Tapi itulah kontrasnya dengan penggunaan bahasa Inggris. If conditional itu bisa digunakan untuk menunjukkan kenyataan pada masa sekarang dan masa yang lalunya bagaimana. Maka tulisanku saat ini akan menggunakan andai yang bahasa Inggris saja.

Andai aku adalah seorang laki-laki. Aku hanya perlu memilih seorang perempuan lalu menikahinya dengan cukup menemui ayah atau walinya dengan tanpa orang tuaku pun bisa dilakukan.

Andai aku seorang anak dari keluarga kaya. Aku tak perlu susah-susah menghemat untuk membiayai atau membeli semua yang aku perlukan untuk pernikahanku. Cukup gesek saja atau cukup suruh orang lain saja untuk mengatur segalanya.

Andai aku seorang anak dari keluarga utuh. Aku tak perlu berusaha menyatukan keluargaku sendiri dulu untuk kemudian menyatukannya dengan keluarga calon suamiku. Tak perlu bersusah payah menjembatani keinginan tiga keluarga karena semua ingin berkontribusi dengan pendapat mereka masing-masing. Tak perlu aku mencari solusi yang bisa menunjukkan kepada orang lain bahwa kami itu satu.

Tapi semua pengandaian di atas bukanlah suatu bentuk penyesalanku selama mengurus pernikahan ini. Semua itu hanya hasil pemikiran mengapa sulitnya aku membangun sesuatu yang sudah terjadi dan tidak bisa diperbaiki.

Aku tak pernah menyesal kalau aku adalah seorang anak perempuan pertama yang ber-ayah sederhana. Aku selalu berusaha tak pernah menyesal atas perpisahan yang terjadi lebih dari 15 tahun lalu itu. Aku hanya merasa aneh. Pernikahan yang dibangun hanya kurang dari 10 tahun tapi mengapa masih menyisakan benci yang lebih lama dari pernikahannya itu sendiri.

Aku ingin semuanya sama dengan keluarga normal lainnya. Tak perlu hal aneh itu muncul dengan dominansinya. Tak perlu aku harus berpikir bagaimana caranya agar mereka bersatu kembali, karena aku tahu pasti itu tak mungkin. Bahkan aku tak pernah mengharapkan mereka bersatu kembali. Kalaupun saya berharap, mungkin saya akan berharap mereka tak pernah menikah. Tapi apa jadinya saya kalau mereka tidak pernah menikah? saya tak akan dilahirkan ke dunia ini. Maka ini bukanlah suatu tolakan terhadap takdir. Saya hanya mengeluh. Saya hanya merintih seperti sedang duduk di kursi pesakitan.

Saya kira ini kedua kalinya saya mengeluh lagi soal kondisi orang tua saya yang bercerai. Saya masih ingat keluhan pertama kalinya soal kondisi ini, yaitu saat pembagian raport sekolah yang wajarnya biasa diambil oleh seorang ibu. Saya mengeluh soal hal yang tak biasa tersebut, saya saat itu malu karena hal yang luar biasa tersebut. Berusaha merasa bangga karena seorang ayah masih bisa menyempatkan waktunya untuk mengambilkan raport anaknya di sekolah.

Kali ke dua ini saya pun mengeluh. Mengeluh mengapa ibu dan ayah saya tidak tinggal satu atap. Mengeluh karena perias pernikahan saya nanti hanya bersedia berada di dua tempat saja. Mengeluh karena pernikahan saya bukan pernikahan biasa.

Saya tahu, bukan hanya saya saja seorang anak broken home. Tapi saya tak mau seperti anak perempuan broken home lain yang ayahnya hadir di akad nikah namun tak menghadiri resepsi pernikahan anaknya karena perbedaan keinginan siapa yang berdiri di pelaminan. Atau seperti anak broken home lain yang salah satu orang tua kandungnya tak hadir baik di akad maupun di resepsi pernikahannya.

Aku hanya seorang anak biasa. Yang berusaha luar biasa untuk menerima keadaan yang ada. Menerima takdir mengapa aku bisa berada di kondisi yang seperti ini. Aku hanya bermaksud menjadikan pernikahanku normal. Berjalan seperti pernikahan anak-anak lainnya yang hidup dari keluarga yang utuh. Aku hanya ingin pernikahanku terlihat biasa, bukan luar biasa. Tak perlu menonjolkan bahwa aku adalah seorang anak broken home. Karena untuk satu kali saja aku bolehkah berharap ingin seperti ayah dan ibuku yang menikah dulu. Mereka beruntung karena mereka bukan anak broken home. Maka keluhanku ini bukan hanya keluhan. Namun juga harapan. Aku hanya ingin sekali lagi saja merasakan hidup seorang anak yang normal, bukan anak broken home.

Dan aku pun tahu, aku hanya bisa berandai-andai.

Selasa, 23 Februari 2010

Rapat Hingga Malam

Malam ini aku buat berbeda. Aku merasa waktu 24 jam itu tidaklah cukup. Maka akupun memanfaatkan teknologi.
Mesin cuci...
Mesin ini amatlah membantuku akhir2 ini. Keputusan kami (maksudnya adalah aku dan adik perempuanku) memanglah tepat. Menyisihkan lebih dari sebagian gaji pertama kami untuk membeli mesin tersebut. Maka, aku pun mulai rajin mencuci pakaian, termasuk malam ini.
Oh mesin tetaplah mesin. Aku harus tetap menjaganya tetap beroperasi sesuai keinginanku. Dan tetaplah mesin, karena aku pula yang memutarnya. Butuh waktu sekitar 2 jam lamanya bagiku untuk menunggu mesin tersebut. Tapi, inilah manfaatnya mesin, tentu saja dinamai mesin karena mampu membantu mempermudah apa yang aku kerjakan. Sebagian waktuku untuk memutarnya aku bisa mengerjakan hal lain, termasuk menonton rapat hingga malam ini di televisi.
Profesional, itulah kata yang diharapkan menunjukkan kelayakan seseorang berperan. Dukungan jiwa untuk profesional diperlukan untuk menunjang jabatan. Kurang lebih dua bulan ini siaran televisi jadi berpusat pada panitia khusus ini. Inikah yang dinamakan profesional? melakukan rapat hingga larut bahkan juga hingga dini hari. Tapi inilah penghargaan bagi para perwakilan rakyat tersebut. Maka nilai profesinalisme tersebut dihargai dengan gaji yang cukup besar dan tentunya fasilitas yang menunjang.
Berbeda dengan era sebelumnya, mereka hanya duduk, rapat pun sepertinya absen ataupun hadir dengan mata lelah dan kantuk. Tapi kini berbeda, mereka tentu saja generasi berbeda, generasi yang menjunjung profesionalisme.
Beralih dari rapat yang aku simak sambil menunggu mesin itu berjalan, aku lihat cuaca di luar sana. Malam yang indah, karena tak kusangka sore ini tak sedikitpun hujan melanda. Hujan baru tiba. Aku baru merasa dingin. Tahukah ini tak baik untukku?
Sepertinya rasa kantuk yang biasanya menimpa para perwakilan rakyat itu malam ini menimpaku. Aku sepertinya akan tidur nyenyak setelah menulis ini. Tentu saja setelah aku matikan mesin itu terlebih dahulu. Menunggu hari esok yang diharapkan secerah hari ini. Meski malam ini pastinya harus lebih indah daripada malam yang lalu.
Karena malam ini, aku rapat hingga malam, dengannya. Meski hanya di dunia maya, namun dia ada di dunia dhyah!

Senin, 22 Februari 2010

Susahnya Jadi Sarjana

Aku punya dua gelar. Aku susah payah mendapatkannya. Namun entah mengapa hari-hari ini begitu berat aku sadari sebagai waktu yang berjalan teramat cepat. Aku tak yakin umurku yang akan semakin tua ini akan cukup menghidupi sisa hidupku. Kau lihat betapa kacaunya aku berkata-kata?
Tak hanya bingung akan apa yang aku rencanakan di kemudian hari, tapi jelas tampak bahwa aku pun bingung dengan apa yang aku mau saat ini. Tak sanggup kupungkiri, aku jenuh. Jenuh dengan rutinitas yang telah aku jalani hampir 2 tahun lamanya ini.
Mengajar. Dunia yang sudah mendarah daging ini mulai meletihkanku. Bukan karena tak merasa betah. Inilah zona nyamanku. Gajiku tak banyak, karena jam kerjaku juga hanya sedikit. Aku bahkan banyak memiliki waktu luang, cocok bagi seorang wanita yang kelak akan menjadi seorang ibu.
Justru, aku merasa kurang tantangan. Tandangan yang biasanya aku jadikan kesempatan untuk menimba ilmu, menjadi amat jarang aku temui. Tentunya selain diharuskan tetap sabar saat menghadapi bocah yang lucu namun juga menyebalkan karena perbedaan usia yang amat jauh.
Kadang aku berpikir, mengapa tak menggunakan gelarku yang satunya?
Mungkin inilah takdir, hanya usaha yang aku dapat lakukan, juga doa yang menyertai, namun jalannya belum sampai ke arah yang ingin aku tuju.
Susahnya jadi sarjana terasa saat aku dihadapkan pada inginku mengabdi pada almamater tercinta. Aku tak cukup hanya seorang sarjana. Aku harus punya gelar master untuk menuju apa yang ingin kulakukan.
Cobaan terbesarnya, aku bukanlah anak seorang yang kaya raya. Yang bisa menghamburkan jerih payah orang tuanya demi membiayai sekolah master ataupun biaya kursus lainnya. Padahal citaku ingin sekolah lebih lama lagi amatlah tinggi. Maka aku pun harus mencari cara agar aku mampu sekolah lagi.
Aku mulai mensurvey sekolah yang ada di Indonesia ini, khususnya di kota Bandung yang begitu nyaman. Tahukah jika biaya sekolah sat ini demikian tingginya pula? Aku butuh lebih dari 60 juta untuk mewujudkan inginku itu. Jumlah yang tak sedikit bagiku.
Kini, aku pun menulis hanya untuk memulai hariku yang baru. Awal dari duniaku, dunia dhyah!