Minggu, 13 Februari 2011

andai yang tak bisa lagi

Jika, apabila, bila, andai, merupakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bahasa Indonesia sebagai awal perumpamaan dari angan-angan di masa depan. Tapi itulah kontrasnya dengan penggunaan bahasa Inggris. If conditional itu bisa digunakan untuk menunjukkan kenyataan pada masa sekarang dan masa yang lalunya bagaimana. Maka tulisanku saat ini akan menggunakan andai yang bahasa Inggris saja.

Andai aku adalah seorang laki-laki. Aku hanya perlu memilih seorang perempuan lalu menikahinya dengan cukup menemui ayah atau walinya dengan tanpa orang tuaku pun bisa dilakukan.

Andai aku seorang anak dari keluarga kaya. Aku tak perlu susah-susah menghemat untuk membiayai atau membeli semua yang aku perlukan untuk pernikahanku. Cukup gesek saja atau cukup suruh orang lain saja untuk mengatur segalanya.

Andai aku seorang anak dari keluarga utuh. Aku tak perlu berusaha menyatukan keluargaku sendiri dulu untuk kemudian menyatukannya dengan keluarga calon suamiku. Tak perlu bersusah payah menjembatani keinginan tiga keluarga karena semua ingin berkontribusi dengan pendapat mereka masing-masing. Tak perlu aku mencari solusi yang bisa menunjukkan kepada orang lain bahwa kami itu satu.

Tapi semua pengandaian di atas bukanlah suatu bentuk penyesalanku selama mengurus pernikahan ini. Semua itu hanya hasil pemikiran mengapa sulitnya aku membangun sesuatu yang sudah terjadi dan tidak bisa diperbaiki.

Aku tak pernah menyesal kalau aku adalah seorang anak perempuan pertama yang ber-ayah sederhana. Aku selalu berusaha tak pernah menyesal atas perpisahan yang terjadi lebih dari 15 tahun lalu itu. Aku hanya merasa aneh. Pernikahan yang dibangun hanya kurang dari 10 tahun tapi mengapa masih menyisakan benci yang lebih lama dari pernikahannya itu sendiri.

Aku ingin semuanya sama dengan keluarga normal lainnya. Tak perlu hal aneh itu muncul dengan dominansinya. Tak perlu aku harus berpikir bagaimana caranya agar mereka bersatu kembali, karena aku tahu pasti itu tak mungkin. Bahkan aku tak pernah mengharapkan mereka bersatu kembali. Kalaupun saya berharap, mungkin saya akan berharap mereka tak pernah menikah. Tapi apa jadinya saya kalau mereka tidak pernah menikah? saya tak akan dilahirkan ke dunia ini. Maka ini bukanlah suatu tolakan terhadap takdir. Saya hanya mengeluh. Saya hanya merintih seperti sedang duduk di kursi pesakitan.

Saya kira ini kedua kalinya saya mengeluh lagi soal kondisi orang tua saya yang bercerai. Saya masih ingat keluhan pertama kalinya soal kondisi ini, yaitu saat pembagian raport sekolah yang wajarnya biasa diambil oleh seorang ibu. Saya mengeluh soal hal yang tak biasa tersebut, saya saat itu malu karena hal yang luar biasa tersebut. Berusaha merasa bangga karena seorang ayah masih bisa menyempatkan waktunya untuk mengambilkan raport anaknya di sekolah.

Kali ke dua ini saya pun mengeluh. Mengeluh mengapa ibu dan ayah saya tidak tinggal satu atap. Mengeluh karena perias pernikahan saya nanti hanya bersedia berada di dua tempat saja. Mengeluh karena pernikahan saya bukan pernikahan biasa.

Saya tahu, bukan hanya saya saja seorang anak broken home. Tapi saya tak mau seperti anak perempuan broken home lain yang ayahnya hadir di akad nikah namun tak menghadiri resepsi pernikahan anaknya karena perbedaan keinginan siapa yang berdiri di pelaminan. Atau seperti anak broken home lain yang salah satu orang tua kandungnya tak hadir baik di akad maupun di resepsi pernikahannya.

Aku hanya seorang anak biasa. Yang berusaha luar biasa untuk menerima keadaan yang ada. Menerima takdir mengapa aku bisa berada di kondisi yang seperti ini. Aku hanya bermaksud menjadikan pernikahanku normal. Berjalan seperti pernikahan anak-anak lainnya yang hidup dari keluarga yang utuh. Aku hanya ingin pernikahanku terlihat biasa, bukan luar biasa. Tak perlu menonjolkan bahwa aku adalah seorang anak broken home. Karena untuk satu kali saja aku bolehkah berharap ingin seperti ayah dan ibuku yang menikah dulu. Mereka beruntung karena mereka bukan anak broken home. Maka keluhanku ini bukan hanya keluhan. Namun juga harapan. Aku hanya ingin sekali lagi saja merasakan hidup seorang anak yang normal, bukan anak broken home.

Dan aku pun tahu, aku hanya bisa berandai-andai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar