Aku punya dua gelar. Aku susah payah mendapatkannya. Namun entah mengapa hari-hari ini begitu berat aku sadari sebagai waktu yang berjalan teramat cepat. Aku tak yakin umurku yang akan semakin tua ini akan cukup menghidupi sisa hidupku. Kau lihat betapa kacaunya aku berkata-kata?
Tak hanya bingung akan apa yang aku rencanakan di kemudian hari, tapi jelas tampak bahwa aku pun bingung dengan apa yang aku mau saat ini. Tak sanggup kupungkiri, aku jenuh. Jenuh dengan rutinitas yang telah aku jalani hampir 2 tahun lamanya ini.
Mengajar. Dunia yang sudah mendarah daging ini mulai meletihkanku. Bukan karena tak merasa betah. Inilah zona nyamanku. Gajiku tak banyak, karena jam kerjaku juga hanya sedikit. Aku bahkan banyak memiliki waktu luang, cocok bagi seorang wanita yang kelak akan menjadi seorang ibu.
Justru, aku merasa kurang tantangan. Tandangan yang biasanya aku jadikan kesempatan untuk menimba ilmu, menjadi amat jarang aku temui. Tentunya selain diharuskan tetap sabar saat menghadapi bocah yang lucu namun juga menyebalkan karena perbedaan usia yang amat jauh.
Kadang aku berpikir, mengapa tak menggunakan gelarku yang satunya?
Mungkin inilah takdir, hanya usaha yang aku dapat lakukan, juga doa yang menyertai, namun jalannya belum sampai ke arah yang ingin aku tuju.
Susahnya jadi sarjana terasa saat aku dihadapkan pada inginku mengabdi pada almamater tercinta. Aku tak cukup hanya seorang sarjana. Aku harus punya gelar master untuk menuju apa yang ingin kulakukan.
Cobaan terbesarnya, aku bukanlah anak seorang yang kaya raya. Yang bisa menghamburkan jerih payah orang tuanya demi membiayai sekolah master ataupun biaya kursus lainnya. Padahal citaku ingin sekolah lebih lama lagi amatlah tinggi. Maka aku pun harus mencari cara agar aku mampu sekolah lagi.
Aku mulai mensurvey sekolah yang ada di Indonesia ini, khususnya di kota Bandung yang begitu nyaman. Tahukah jika biaya sekolah sat ini demikian tingginya pula? Aku butuh lebih dari 60 juta untuk mewujudkan inginku itu. Jumlah yang tak sedikit bagiku.
Kini, aku pun menulis hanya untuk memulai hariku yang baru. Awal dari duniaku, dunia dhyah!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar