Tak ada yang salah dengan pekerjaan seorang ibu rumah tangga atau pembantu rumah tangga. Salah satu pekerjaan rumah tangga yang sering saya lakukan adalah mencuci. Hobi yang entah dikarenakan adanya penciptaan alat yang membantu pekerjaan manusia, yakni mesin cuci. Awalnya aku sangat tak suka saat disuruh mencuci dulu. Namun setelah adanya kehadiran mesin itu, hati ini tergugah untuk sering mencuci. Bahkan jika dibandingkan dengan kebutuhan menyetrikanya, mencuci jauh lebih sering.
Tahukah kamu jika mencuci bukan hal yang mudah. Ada tips dan triknya dalam menjaga pakaian agar tetap enak dipakai. Tentu saja demi kepentingan saya juga sebagai pemakainya. Mana ada sih yang pede pakai baju luntur, atau baju belel yang jadi longgar atau bahkan menciut dari ukuran sebelum dicuci. Semua ini demi penampilanku, lebih lagi mana ada sih yang pede dengan pakaian bau dan kotor. Maka dari itu saya harus mencuci dengan tepat.
Memisahkan pakaian yang berwarna dengan yang tidak adalah merupakan suatu kewajiban sebelum memasukkannya ke dalam mesin cuci, kecuali kalau tahu dengan pasti bahwa pakaian tersebut tidak luntur. Tapi apa salahnya berjaga-jaga, mencegah warna pakaian menular ke pakaian yang tidak berwarna.
Sebaiknya tidak mencuci pakaian dalam dengan mesin cuci. Selain takut bakteri yang menempel di pakaian kotor lainnya menempel di pakaian dalam kita, terlebih lagi pakaian dalam itu rawan cepat rusak alias belel atau berubah bentuk (khususnya bra) jika dicuci dengan mesin cuci terutama yang menggunakan kekuatan tinggi dalam memutarnya. Padahal yang namanya pakaian dalam itu lumayan mahal harganya, hampir sama bahkan terkadang lebih mahal daripada baju yang saya beli. Harus diawet-awet, meskipun kewajiban untuk mengganti pakaian dalam yang lama dengan yang baru setelah 3 atau 4 bulan.
Jangan pernah mencuci kebaya dengan mesin cuci. Hal ini pernah saya lakukan, dan tak mau lagi. Tahu kan akibatnya jika mencuci kebaya berpayet dengan mesin cuci? mulai dari payetnya yang copot hingga kancingnya yang akhirnya lepas dari batok kancingnya. Pokoknya akan menyesal kemudian karena akan menimbulkan biaya tambahan untuk memperbaikinya, atau bahkan keharusan membeli atau menjahit kebaya baru. Mana yang namanya kebaya itu tak cukup uang seratus ribu saja. Kebaya kesayangan yang penuh payet tidak disarankan mencuci dengan mesin cuci, bahkan dengan tangan pun harus sangat hati-hati. Kalau tidak mau ribet, kirimkan saja ke jasa laundry.
Pilihlah sabun deterjen yang tepat. Keluhan akan tangan kasar setelah mencuci sebenarnya dengan mencuci dengan mesin cuci mampu menguranginya. Apalagi saya terbiasa menggunakan sarung tangan untuk mencuci. Tapi pastikan sabun juga tepat mengangkat kotoran yang melekat pada baju kita. Jika sabun kita itu keras, maka jangan lupa untuk menambahkan pelembut pakaian pada bilasan terakhir dalam mesin cuci.
Jangan meremehkan pekerjaan mudah ini, karena walau bagaimanapun kondisi psikologis kita yang malas mengerjakan pekerjaan rumah sangat mempengaruhi kebiasaan dalam mencuci. Tidak aneh jika pembantu rumah tangga dibayar mahal untuk memperhatikan detail pekerjaannya. Oleh karena itu, bisa muncul karena terbiasa. Mari membiasakan mencuci dengan benar.
Minggu, 13 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar